#1

PSIKOLOGI TIMUR

(created e-book by Suliarna dari berbagai sumber)

Email: oselpribadi@yahoo.co.id, oselpribadi@gmail.com

Fb: Suliarna Osel, PIN BB:224DC329 , Blog : www.oselgandhisvara.blog.com

 

(Belum diedit dalam perspektif pengunggah masih artikel asli)

Sebagai referensi :

Mahasiswa Program  PPS Psikologi Buddhis STABN Sriwijaya

Tangerang Banten

(sumber asli : www.psychologymania.com)

Sebagaimana yang kita ketahui, terdapat banyak teori kepribadian di lingkungan peradaban Barat, begitu pula terdapat banyak psikologi Timur. Kendati terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam hal kepercayaaan dan pandangan tentang dunia di antara agama-agama yang mengandung psikologi-psikologi Timur, namun dalam hal ini juga terdapat persamaan diatara keduanya, yakni semuanya berusaha menggambarkan kodrat pengalaman langsung sang pribadi. Dalam hal ini, segala sistemnya berkisar pada teknik-teknik meditasi yang memungkinkan orang semata-mata meneliti arus kesadarannya sendiri, dengan memberinya sejenis jendela yang netral atas aliran pengalamannya. Oleh karean itu, pada akhirnya semua psikologi Timur mengakui bahwa jalan utama ke arah transformasi diri ini adalah meditasi.

Dalam Buddhisme yang sampai saat ini merupakan agama terbesar di dunia, dimana prinsip-prinsip psikologis ini telah dikemukakan oleh pendirinya yakni Buddha GautamaTheravada di negara-negara Asia Tenggara, Aliran Ch’an di cina (ditindas sejak komunis berkuasa), Zen di Korea dan Jepang, dan sekte-sekte di Tibet. Sementara itu, dua orang paling terkenal yang berhasil mengkodifikasikan prinsip-prinsip psikologis dalam aliran-aliran yoga Hindu adalah Patanjali(Prabhavanda dan Isherwood, 1969) serta Shankara (Prabhavanda dan Isherwood, 1970). (536-438 SM). Dalam 2500 tahun semenjak ia hidup, wawasan-wawasan psikologis dasarnya telah dikembangkan menjadi sistem-sistem teori dan praktik yang berbeda-beda oleh masing-masing cabang penganut Buddha. Diantara berbagai aliran yang ada dewasa ini, yang paling berpengaruh adalah penganut-penganutDalam dunia Islam, para Sufi telah bertindak sebagai para psikolog terapan (Shah, 1961). Diantara orang-orang Yahudi, para Kabbalis merupakan kelompok yang paling memperhatikan transformasi psikologis (Halevi, 1976; Scholem, 1961). Suatu survei yang sangat baik tentang agama-agama, sejarah, dan kepercayaan-kepercayaan terdapat dalam The Religions of Man karya Huston Smith (1958).

Salah satu diantara psikologi-psikologi ini yang paling sistematik dan yang tersusun secara paling rinci adalah Buddhisme Klasik. Diberi nama menurut hari Buddha yang dalam bahasa Pali disebut Abhidhamma (atau Abhidharma dalam bahasa Sansekerta), berarti “ajaran pokok”. Psikologi ini menguraikan wawasan asli dari Buddha Gautama tentang kodrat manusia. (Kamus terbaik yang ada tentang istilah-istilah Abhidhamma adalah karya Nyanatiloka; 1972). Karena psikologi itu berasal dari ajaran-ajaran pokok Buddha, maka Abhdhamma atau suatu psikologi yang sangat serupa dengan itu, merupakan inti dari berbagai cabang Buddhisme.

 

Pengaruh Psikologi Timur Pada Pemikiran Barat

Walaupun psikologi-psikologi Timur banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya, psikologi ini juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas. Tujuan dari psikologi-psikologi Timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu. Dalam hal ini, setiap tipe kepribadian perlu mengatasi hambatan-hambatan yang berbeda untuk membebaskan diri dari batas-batas ini.

Disamping itu, pendekatan psikologi-psikologi Asia didasarkan pada introspeksi dan pemeriksaan diri sendiri yang menuntut banyak energi, berbeda dengan psikologi-psikologi Barat yang lebih bersandar pada observasi tingkah laku. Setiap kutipan oleh Gardner dan Louis Murphy (1968) dari kitab-kitab suci Asia, memberikan semacam wawasan psikologis, baik suatu pandangan tentang bagaimana jiwa bekerja, suatu teori kepribadian, ataupun suatu model motivasi. Kendati mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara psikologi-psikologi Asia tersebut, namun Gardner dan Louis Murphy (1968) menyimpulkan bahwa psikologi-psikologi itu pada hakikatnya merupakan suatu reaksi terhadap kehidupan yang dilihat sebagai penuh dengan penderitaan dan kekecewaan. Cara umum untuk mengatasi penderitaan yang dianjurkan oleh psikologi-psikologi ini adalah disiplin dan kontrol diri, yang dapat memberikan kepada orang yang mengupayakannya “suatu perasaan ekstase yang tak terbatas dan hanya dapat ditemukan dalam diri yang bebas dari pamrih-pamrih pribadi”. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, minat psikologis di Timur dan Barat “berpadu dengan sangat cepat”.

Selain itu, Alan Watts dalam ”Psychotherapy East and West” (1961) mengakui bahwa apa yang disebutnya “cara-cara pembebasan Timur” adalah mirip dengan psikoterapi Barat, yakni bahwa keduanya bertujuan mengubah perasaan-perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang-orang lain dan dunia alam. Sebagian besar terpai-terapi Barat menangani orang-orang yang mengalami gangguan; sedangkan disiplin-disiplin Timur menangani orang-orang yang normal dan memilih penyesuaian sosial yang baik. Meskipun demikian, Watts melihat bahwa tujuan dari cara-cara pembebasan itu cocok dengan tujuan terapeutik sejumlah teoritikus, khususnya individuasi dari Jung, aktualisasi diri dari Maslow, otonomi fungsional dari Allport, dan diri yang kreatif dari Adler.

Setelah itu, Richard Alpert atau yang lebih dikenal dengan Ram Dass pun berpendapat bahwa meditasi dan latihan-latihan rohani lainnya dapat menghasilkan jenis perubahan kepribadian terapeutik yang tidak dapat dihasilkan oleh obat-obat bius. Ia juga menekankan pada pentingnya pertumbuhan rohani, dan kekosongan hidup jika dijalani tanpa kesadaran rohani.

Pembahasan

Abhidhamma telah berkembang di India selama 15 abad yang lalu, yang merupakan wawasan-wawasan dari Buddha Gautama. Budhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran, diantaranya ialah Mahayana dan Hinayana. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Bhiku Nyanaponika, seorang sarjana Buddhisme modern, ”Dalam ajaran Buddhisme, pikiran merupakan titik tolak, titik pusat dan juga merupakan pemikiran yang dibebaskan dan dimurnikan oleh seorang Santo, suatu titik kulminasi” (1962, hlm. 12).

A. Unsur-Unsur Kepribadian

Dalam Abhidhamma, kata ”kepribadian” sangat serupa dengan konsep atta, atau diri (self) menurut konsep Barat. Bedanya, menurut asumsi dasarAbhidhamma tidak ada diri yang bersifat kekal atau abadi, benar-benar kekal, yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang. Yang tampak sebagai kepribadian terbentuk dari perpaduan antara proses-proses impersonal ini. Dalam hal ini, apa yang kelihatan sebagai ”diri” tidak lain adalah bagian jumlah keseluruhan dari bagian-bagian tubuh, yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dan sebagainya. Satu-satunya benang yang bersinambungan atau bersambung-menyambung dalam jiwa adalah bhava, yakni kesinambungan kesadaran dari waktu ke waktu.

Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia, dibentuk oleh momen sebelumnya, dan pada gilirannya akan menentukan momen-momen yang berikutnya, sehingga semua proses kejiwaan manusia itu berkesinambungan. Menurut Abhidhamma, kepribadian manusia sama seperti sungai yang memiliki bentuk yang tetap, seolah-olah satu identitas, walaupun tidak setetes air pun tidak berubah seperti pada momen sebelumnya. Dala pandangan ini, ”tidak ada aktor yang mampu terlepas dari aksi, tidak ada orang yang mengamati mampu terlepas dari persepsi dan tidak ada subjek sadar di balik kesadaran” (Van Aung, 1972, hlm. 7). Dalam kata-kata Buddha (Samyutta-Nikaya, 1972, 135):

Sama seperti bila bagian-bagian dirangkaikan

Maka timbullah kata kereta perang”,

Demikian juga pengertian tentang adaBila agregat-agregatnya hadir

Yang menjadi fokus studi psikologi Abbidhamma adalah serangkaian peristiwa, yakni hubungan yang terus menerus antara keadaan-keadaan jiwa dan objek-objek indera, misalnya perasaan birahi (keadaan jiwa) pada seorang wanita cantik (objek indera). Keadaan-keadaan jiwa itu selalu berubah dari momen ke momen, dan perubahan itu ternyata sangat cepat. Selain itu, yang menjadi objek psikologi Abhidhamma adalah:

  1. Penginderaan dari panca indera
  2. Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam
  3. Setiap keadaan jiwa terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa, yang disebut faktor-faktor jiwa. Sifat-sifat jiwa ini misalnya cinta, benci, adil, bengis, sosial, dan sebagainya.

Dalam hal ini, faktor-faktor jiwa itu berperan sebagai:

Kunci menuju karma (menurut istilah Barat), kamma (menurut istilah Pali). Sedangkan dalam Abhidhamma, kamma merupakana suatu istilah teknis untuk prinsip bahwa setiap perbuatan dimotivasikan oleh keadaan-keadaan jiwa yang melatarbelakanginya.

Menurut psikologi Timur, suatu tingkah laku pada hakikatnya secara moral adalah netral.

  1. Sifat moral tingklah laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi seseorang untuk melakukan perbuatan itu.
  2. Perbuatan seseorang memiliki campuran faktor-faktor jiwa negatif. 
  3. Dhammapada adalah kumpulan sajak yang dahulu diucapkan oleh Budha Gautama, mulai dengan pernyataan ajaran Abhidhamma tentang karma ataukamma:

Segala sesuatu yang terdapat pada kita merupakan akibat dari apa yang telah kita pikirkan: berdasarkan pikiran kita, dibentuk oleh pikiran kita. Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, maka perasaan sakit akan mengikutinya, sama seperti roda yang mengikuti kaki lembu yang menghela gerobak……Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, sama seperti bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkannya (Babbitt, 1965, hlm. 3).

B. Macam-Macam Faktor Jiwa

Mengenai faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni:

1. Kusula : berarti murni, baik, sehat.

2. Akusula : berarti tidak murni, tidak baik, tidak sehat

Kebanyakan faktor jiwa perseptual, kognitif, dan afektif cocok untuk dimasukkan ke dalam kategori sehat atau tidak sehat. Penilaian tentang ”sehat” atau ”tidak sehat” dicapai secara empiris, berdasarkan pengalaman kolektif sejumlah besar petapa Bbuddhis pertama. Kriterium mengenai faktor jiwa sehat-tidak sehat adalah bahwa apakah suatu faktor jiwa khusus tertentu mempermudah atau mengganggu usaha mereka untuk mengheningkan jiwa dalam samadi (pertapaan). Dalam hal ini, faktor jiwa yang menganggu samadi disebut faktor jiwa tidak sehat. Sedangkan yang mempermudah jalannya untuk mengheningkan jiwa disebut faktor jiwa sehat.

Selain faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat, terdapat juga tujuh sifat netral yang ada dalam setiap keadaan jiwa, yakni: 

  1. Phasa : appersepsi, adalah kesadaran semata-mata ke suatu objek 
  2. Sanna : persepsi, adalah pengenalan pertama bahwa kesadaran semata-mata pada suatu objek yang tersebut termasuk dalam salah satu indera. Misalnya: penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. 
  3. Cetana : kemauan, yakni reaksi terkondisi yang menyertai suatu objek
  4. Vedana : perasaan, aneka penginderaan yang dibangkitkan oleh objek itu 
  5. Ekaggata : keterarahan kepada suatu titik, yakni pemusatan kesadaran 
  6. Manasikara : perhatian spontan, yakni pengarahan perhatian yang tidak disengaja karena daya tarik dari suatu objek 
  7. Jivitindriya : energi psikis, yang memberi vitalitas dan mempersatukan keenam faktor jiwa lainnya. (Hall, p. 241).

Faktor-faktor tersebut diatas merupakan sejenis kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Namun kombinasi khusus faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen.

1. Faktor-faktor Jiwa Tidak Sehat

a. Beberapa contoh faktor tidak sehat pada jiwa dari kelompok kognitif:

· Moha : delusi, bersifat perseptual dan sentral, yakni kegelapan jiwa, penyebab persepsi yang salah tentang objek kesadaran.

· Aditthi : pandangan salah, pemahaman tidak tepat karena pengaruh delusi. Karena pandangan atau pemahaman yang salah inilah, maka semua yang tertuju menjadi tidak menyenangkan. Misalnya, pandangan ”diri” sebgai yang tetap (model Barat), secara Timur hal-hal tersebut adalh aditthi.

· Vicikiccha : kebingungan, mencerminkan ketidakmampuan untuk menentukan atau membuat suatu keputusan yang tepat.

· Ahirika : sikap tidak tahu malu

· Anottapa : tanpa belas kasihan, bengis, kejam, sadis

· Mana : egoisme, egoistis, mementingkan diri sendiri

b. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok afektif, adalah:

· Uddhacca : keresahan, rasa tidak tentram

· Kukkucca : kekhawatiran, yakni keadaan bingung, linglung, penyesalan. Yang berhubungan dengan ketergantungan:

· Lobha : tamak, rakus, serakah

· Macchariya: kekikiran, pelit

· Issa : iri hati, yang menyebabkan keterikatan pada objek

· Dosa : kemuakan, merupakan sisi negatifnya dan selalu berhubungan dengan delusi

· Thina : kontraksi, pengerutan, kejang-kejang, gemetar

· Middha : Kebekuan, sikap dingin

Faktor-faktor diatas tersebut menyebabkan keadaan jiwa menjadi kaku dan tidak fleksibel. Apabila faktor-faktor negatif ini menonjol, maka jiwa dan tubuh seseorang cenderung menjadi lamban.

2. Faktor-faktor Jiwa Sehat

Setiap faktor yang tidak sehat ditentang oleh suatu faktor yang sehat. Dalam hal ini, cara untuk mencapai keadaan jiwa yang sehat adalah menggantikan faktor-faktor yang tidak sehat dengan kutub sebaliknya. Prinsip ini mirip dengan ”reciprocal inhibition” (hambatan timbal balik)yang digunkan dalam ”systematic desentization”, dimana pengendoran (relaxation) menghambat lawan fisiologisnya, yakni tegangan (Wolpe, 1958). Untuk setiap faktor sehat tertentu ada dalam suatu keadaan jiwa, maka faktor tidak sehat yang ditekannya tidak akan dapat muncul.  

Berikut adalah faktor-faktor jiwa sehat yang terpenting, antara lain:Panna: pemahaman, insight, lawan dari delusi; persepsi yang jelas tentang objek sebagaimana adanya. Dimana Panna dan elusi tidak dapat hadir secara bersamaan. 

  • Sati : sikap penuh perhatian, mind fulness, pemahamannya yang jelas dan kontinyu pada objek. Dimana Panna dan Sati ini menyebabkan orang menjadi selalu tenang dan dapat menekan semua faktor tidak sehat. 
  1. Hiri : rendah hati, menghambat tidak tahu malu. 
  2. Ottappa : sikap penuh hati-hati, sikap tanpa penyesalan
  3. Cittujjukata: kejujuran, menilai secara tepat 
  4. Saddha : kepercayaan, yakni kepastian berdasarkan pada persepsi yang tepat. Kombinasi dari hiri, ottappa, cittujjukata dan sadha, bekerja sama untuk menghasilkan perbuatan kebajikan yang diukur dari norma pribadi maupun norma sosial. 
  5. Alobha : ketidakterikatan, kebebasan, kemerdekaan 
  6. Adosa : ketidakmuakan, kesiapsiagaan untuk menghadapi apapun 
  7. Tatramajjhata: sikap tidak memihak, tidak pilih kasih 
  8. Passadhi : sikap tenang
  9. Ahuta : kegembiraan 
  10. Muduta : luwes, fleksibel 
  11. Kammantaka: mampu adaptasi dan menyesuaikan diri 
  12. Paqunnata : kecakapan

C. Dinamika Kepribadian

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor sehat atau tidak sehat tertentu, akan menghasilkan tipe-tipe kepribadian atau tingkah laku tertentu pada individu yang bersangkutan.

Beberapa contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana prilaku yang terjadi, atau menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu adalah sebagai berikut:

  • Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekikiran, irihati, dan kemuakan dilawan oleh faktor-faktor ketidakterikatan (alobha)adosa(ketidakmuakan)tatramajjhata (tidak memihak), dan passadhi (sikap tenang), maka akan mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang terjadi karena berkurangnya perasaan keterikatan.
  • Sikap-sikap alobhaadosatatramjjhata, dan passadhi menggantikan sikap rakus atau sebaliknya, sikap menolak, dengan sikap penuh perhatian terhadap apa saja yang mungkin timbul dalam kesadaran seseorang, yang menyebabkan timbulnya sikap menerima apa adanya.
  • Faktor-faktor sikap egois, irihati, kemuakan, menyebabkan orang haus atau mendambakan pekerjaan yang terpandang, tinggi dan mewah, atau irihati terhadap orang lain yang mempunyai pekerjaan.
  • Sebaliknya, sikap-sikap tenang, bebas, ketidakmuakan, netral, menyebabkan orang mempertimbangkan keuntungan-keuntungan berupa upah dan prestasi dengan keinginan-keinginan seperti tekanan dan ketegangan yang lebih besar serta menilai secara adil. Sedangkan sikap netral memandang seluruh situasi dengan tenang.
  • Jika faktor-faktor kegembiraan (ahuta), luwes/fleksibel (muduta), dan kecakapan (paqunata) muncul pada prilaku, maka seseorang akan berpikir dan bertindak dengan leluasa dan mudah, mewujudkan ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal.
  • Faktor tersebut menekan faktor-faktor kontraksi dan kebekuan yang tidak sehat itu, yang menguasai jiwa dalam keadan-keadaan tertentu seperti depresi. Dalam kehidupan sehari-hari, faktor sehat tersebut menyebabkan orang dapat menyesuaikan diri secara fisik dan psikis terhadap keadaan-keadaan yang senantiasa berubah serta dapat menghadapi tantangan-tantangan manapun yang mungkin timbul.

D. Psikodinamika Kepribadian

Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antar faktor-faktor jiwa dengan mekanisme sebagai berikut:

  • Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat
  • Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang faktor-faktor sehat dan tidak sehat.
  • Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya.
  • Dalam beberapa hal satu faktor sehat akan menghambat sekumpulan faktor tidak sehat, misalnya, ketidakterikatan mampu secara sendirian menghambat ketamakan, kekikiran, irihati dan kemuakan.
  • Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor tandingan secara keseluruhan, misalnya jika terjadi delusi, maka tidak satupun faktor baik dapat timbul dan hadir secara bersamaan.
  • Karma seseoranglah sebagai penentu, apakah ia akan mengalami keadaan jiwa sehat atau keadaan jiwa tidak sehat.
  • Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh-pengaruh situasi disamping juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Faktor-faktor tersebut biasanya timbul sebagai suatu kelompok, baik positif maupun negatif.
  • Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda.
  • Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan bagaimana seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu
  • Meskipun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang dialami akan sangat berbeda, tergantung pada apakah misalnya ketamakan atau kebekuan yang mendominasi jiwa.
  • Hierarki kebutuhan dari faktor-faktor tersebut menentukan apakah keadaan spesifik itu akan menjadi positif atau negatif.
  • Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam keadaan jiwa seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian.
  • Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang, menentukan sifat-sifat kepribadiannya.

Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat, sebagai berikut:

Faktor jiwa yang sehat Faktor jiwa yang tidak sehat
a. Perseptual (kognitif)

1. Pemahaman (insight)

2. Sikap penuh perhatian

3. Sikap rendah hati

4. Sikap penuh hati-hati

5. Kepercayaan

b. Afektif

1. Ketenangan

2. Ketidakterikatan

3. Ketidakmuakan

4. Kenetralan

5. Kegembiraan

6. Fleksibilitas

7. Kemampuan adaptasi

8. Kecakapan

9. Kejujuran

Delusi

Pandangan yang salah

Sikap tidak tahu malu

Kecerobohan

Egoisme

Keresahan

Ketamakan

Kemuakan

Irihati

Kekikiran

Kekhawatiran

Pengerutan (kontraksi)

Kebekuan

Kebingungan

Tipe-Tipe Kepribadian

Mengenai bagaimana timbulnya beberapa tipe kepribadian menurut ajaran abhidhamma, adalah sebagai berikut:

  • Bahwa tipe-tipe kepribadian menurut Abhidhamma, secara langsung diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda. Jika jiwa seseorang tetap dikuasai oleh suatu faktor, maka hal ini akan mempengaruhi kepribadian, motif-motif dan tingkah lakunya.
  • Keunikan pola faktor-faktor jiwa setiap orang menimbulkan perbedaan individual dalam kepribadian melampaui kategori-katergori kasartipe-tipe pokok kepribadian.
  • Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan pengaruh faktor-faktor tersebut pada tingkah laku. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari sesuatu atau menjauhinya. Hal ini disebabkan karena keadaan-keadaan jiwa tersebut membimbing kepada perbuatannya. Misalnya, jiwa manusia dikuasai oleh ketamakan, hal ini akan menjadi menonjol, dan orang akan bertingkah laku sesuai motif tadi, yakni berusaha memperoleh objek ketamakannya. Jika egoisme merupakan suatu faktor jiwa yang kuat, maka orang tersebut akan berbuat dengan cara yang selalu untuk meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, setiap tipe kepribadian menjadi tipe motifnya juga.
  • Buku Visuddhimagga (Buddhaghosa, 1976), merupakan pedoman untuk meditasi sesuai dengan ajaran Abhidhamma pada abad ke V SM. Dalam pedoman ini terdapat bahagian untuk mengenal tipe-tipe utama kepribadian, karena setiap orang harus diperlakukan sesuai dengan sifat-sifatnya. Salah satu metode yang disarankan guna menilai tipe kepribadian adalah dengan mengamati secara seksama cara bergerak dan berdiri. Misalnya:

a. Orang yang kuat nafsunya atau senang kenikmatan, jalannya anggun

b. Orang yang penuh kebencian, suka menyeret kakinya jika berjalan

c. Pada orang yang dikuasai delusi, jika berjalan cepat langkahnya.

Contoh lain yang diberikan oleh Vajiranana (1962), sebagai berikut:

”Orang yang kuat nafsunya, jejak kakinya terbelah di tengah. Orang yang tidak ramah, jejak kakinya membentuk garis ke belakang. Sementara jejak kaki orang yang dikuasai delusi, kelihatan terburu-buru ditapakkan. Sedangkan Buddha Gautama meninggalkan jejak kaki yang sempurna karena jiwanya tenang dan badannya pun seimbang”.

Tipe-tipe manusia yang tercantum dalam buku Visudhimagga adalah sebagai berikut:

  • Tipe orang suka kenikmatan: 
    • Berpenampilan menarik; sopan dan menjawab dengan hormat jika disapa. Jika tidur selalu mengatur tempat tidurnya secara cermat, membaringkan tubuhnya dengan hati-hati; dan tak banyak bergerak waktu tidur.
    • senang melakukan tugas-tugas dengan seni, rapi, sangat berhati-hati. Selain itu berpakaian rapi dan bagus. Jika makan menyukai makanan yang empuk dan disajikan dengan cara mewah, kemudian makan dengan perlahan, sedikit-sedikit dan sangat menikmati cita rasa.
    • jika melihat objek yang menyenangkan, akan berhati-hati untuk mengaguminya, terpesona oleh tindakan, dan tidak memperhatikan kekurangannya. Selalu ada rasa sesal jika meninggalkan objek yang indah.
    • Sisi negatifnya: tipe ini suka berlagak, suka menipu, tamak, tidak mudah puas, penuh nafsu dan sembrono.

2. Tipe orang pembenci:

  • Berdiri dengan kaku, tempat tidur dibereskan dengan serampangan dan tergesa-gesa, tidur dengan badan tegang, dan marah jika dibangunkan.
  • jika bekerja orang dengan tipe ini kasar dan sembrono; jika menyapu berbunyi keras dan gaduh. Jika berpakaian ketat dan tidak rapi. Senang pada makanan pedas dan asam, makan dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan cita rasa, meski tidak suka makanan yang hambar
  • Tidak tertarik pada objek-objek yang indah; memperhatikan kekurangan sekecil apapun; sementara itu mengabaikan kebaikan-kebaikannya; sering marah-marah, penuh kebencian, tidak mau menunjukkan rasa terima kasih, mudah iri hati dan kikir.

3. Tipe Orang delusi:

  • Pakaiannya compang-camping, benangnya berseliweran, kasar seperti rami, berat dan tidak enak dipakai.
  • Tempat tidur tidak rapi, suka tidur terlentang, bangun dengan lamban, dan menggerutu penuh keluh kesah.
  • Sebagai pekerja orang tipe ini tidak terampil dan jorok; jika menyapu dengan kaku dan serampangan, serta tidak bersih.
  • Tidak peduli dengan makanan, dan akan makan apa sajayang ada; orang dengan tipe ini adalah pemakan yang ceroboh, memasukkan suapan yang besar-besar ke mulut dan mengotori muka dengan makanan.
  • Mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang berat, bentuknya tidak serasi, memuakkan, tidak rata dan tidak ada di desa sekitarnya.
  • Desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur, orangnya lalu lalang seolah-olah tidak melihatnya
  • Orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar, kotor, tak sedap dipandang mata, makanan kotor, berbau dan menjijikan
  • Orang tipe ini tidak mempunyai ide baik atau jelek pada suatu objek, tetapi percaya saja apa yang dikatakan oleh orang lain, lalu turut memuja atau mencelanya
  • Sering berkelakuan malas, kaku, kacau, mudah menyerah dan bingungan, serta dapat juga keras kepal dan bandel.
  • Dalam buku Visuddhimagga, selanjutnya menetapkan kondisi-kondisi optimal yang harus disiapkan untuk orang-orang dengan masing-masing tipe tersebut diatas adalah, apabila mereka mulai bermeditasi. Tujuannya adalah untuk mengalahkan gejala-gejala psikologis yang dominan dan dengan demikian menjadikan jiwa mereka seimbang, sehingga dapat disebut manusia yang harmonis. Sebaliknya, kondisi-kondisi untuk tipe orang penuh kebencian, semuanya dibuat serba enak dan semudah mungkin. Sedangkan untuk tipe delusi, segala sesuatunya harus dibuat sederhana dan jelas, menyenangkan serta enak, seperti kondisi untuk tipe penuh kebencian.

Dengan demikian, untuk setiap kasus diatas, lingkungan disesuaikan dengan tipe-tipe manusia dengan maksud menghambat faktor-faktor jiwa yang biasanya menguasai masing-masing tipe kepribadian: orang yang rakus susah menemukan objek ketamakannya, orang yang penuh kebencian sulit menemukan objek untuk direndahkan, sedangkan untuk orang yang dikuasai delusi, segala sesuatunya dibuat jelas. Program lingkungan yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan jiwa ini merupakan pendahulu, disebut ”terapi lingkungan” (milieu therapy). Dalam hal ini, Buddha juga melihat bahwa tipe orang-orang yang berbeda akan menyukai tipe meditasi yang berbeda-beda, maka ia merancang berbagai metode meditasi yang disesuaikan dengan tipe-tipe kepribadian yang berlainan.

F. Kepribadian Sehat dan gangguan jiwa

Definisi Operasional kepribadian, dapat dirumuskan sebagai beirkut:

  1. Pribadi sehat: Tidak ada faktor-faktor tidak sehat atau selalu ada faktor sehat
  2. Jiwa terganggu: Ada faktor jiwa tidak sehat, dimana gangguan jiwa timbul karena faktor tidak sehat menguasai kejiwaan seseorang
  3. Kriterium untuk kesehatan jiwa: Adanya faktor-faktor yang sehat dan ketiadaan faktor-faktor yang tidak sehat dalam sistem pengelolaan sumber daya psikologis seseorang

Berikut ini contoh faktor-faktor sehat, antara lain: 

  1.              a.        Karuna: Kebaikan hati yang penuh kasih 
  2.             b.        Mudita: merasakan nikmat dalam kebahagiaan orang lain
  3.              c.        Dalam kitab suci Buddha, pernah disebutkan bahwa: ”semua orang yang tertarik hal-hal duniawi adalah gila”. 
  4.             d.        Annusaya: kecenderungan-kecenderungan laten dari jiwa tidak sehat 
  5.              e.        Meditasi : sarana menuju kepribadian sehat

Selanjutnya, tujuan perkembangan psikologis dalam Abhidhamma adalah meningkatkan jumlah keadaan-keadaan yang sehat dan dengan demikian mengurangi keadaan-keadaan yang tidak sehat dalam jiwa seseorang. Disamping itu, pada puncak kesehatan jiwa sama sekali tidak ada faktor-faktor yang yang tidak sehat muncul dalam jiwa seseorang. Meskipun setiap orang terdorong untuk mencari hal yang ideal ini, namun sudah pasti hal tersebut jarang tercapai.

G. Tentang Mimpi

Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi adalah sifat istimewa lain dari arahat/santo (masyarakat Barat). Ada empat macam tipe mimpi pada manusia, yakni:

  1. Mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada oragan atau otot, dan biasanya menyangkut suatu perasaan fisik yang menakutkan, misalnya jatuh, terbang, atau dikejar-kejar harimau. Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini.
  2. Mimpi yang ada hubugannya dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan orang pada siang harinya, dan menggemakan pengalaman-pengalaman yang sudah berlalu tersebut. Mimpi semacam ini kerap terjadi.
  3. Mimpi tentang suatu peristiwa aktual sebagaimana peristiwa itu terjadi, mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat C.G. Jung.
  4. Mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant), suatu ram,alan yang tepat tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Seorang arahat/santo bermimpi, maka mimpinya itu selalu bersifat waskita (Van Aung, 1972).

Sang Buddha sendiri mahir dalam menginterpretasikan lambang-lambang dalam mimpinya, meskipun tidak ada sistem yang formal untuk analisis simbolik dalam Abhidhamma. Dalam hal ini, Buddha Gautama juga pernah mengalami mimpi sebelum menerima pencerahan atau sinar Buddha. Mimpi tersebut meramalkan pencerahan Buddha Gautama dalam mendapatkan Boddhi.

Tingkat kepribadian arahat pada Abhidhamma ini, tidak ada dalam teori kepribadian psikologi Barat. Tingkat arahat ini merupakan hal yang cukup umum pada psikologi timur, terutama dalam ajaran olah kejiwaan di Indonesia. Oleh karena itu, arahat dapat dikatakan semacam Santo di masyarakt Barat, yakni predikat bagi rohaniawan kristiani. Pada arahat yang sangat istimewa, merupakan protitipe kepribadian orang yang tidak ada pada kepribadian prototipe di Barat.

Perubahan kepribadian yang radikal pada taraf arahat semacam itu melampaui tujuan-tujuan dan harapan-harapan psikoterapi Barat. Dalam hal ini, konsep arahat merupakan sesuatu yang ideal bagi kebanyakan orang, namun terasa terlampau baik untuk diwujudkan. Selain itu, arahat sebagai model pribadi sehat adalah memiliki banyak sifat yang mereka asumsikan intrinsik dalam kodrat manusia. Mungkin ide pribadi arahat semakna dengan konsep Maslow atau Rogers sebagai pribadi yang dapat teraktualisasi penuh.

Kesimpulan

Psikologi Abhidhamma pada hakikatnya bersifat fenomenologis, yakni suatu teori deskriptif tentang keadaan-keadaan internal. Hanya orang-orang yang telah menghayati latihan yang dipersyaratkan dan pengalaman sesudahnya akan benar-benar dapat menguji teori tersebut. Abhidhamma, ketika membahas keadaan-keadaan di luar kesadaran dalam meditasi, juga merupakan ”ilmu tentang keadaan-khusus” menurut definisi yang dikemukakan Tart (1972): pokok pengetahuan yang diperoleh lewat analisis, eksperimen, dan komunikasi dengan suatu keadaan khusus dalam hal ini, keadaan bermeditasi. Bahaya utama dari teori-teori fenomenologis dan ilmu-ilmu pengetahuan tentang keadaan khusus adalah penipuan diri sendiri. Seseorang mungkin merasa yakin bahwa pengalamannya begini atau begitu, sedangkan sesungguhnya lain; sepanjang tidak ada bukti lain untuk mengoreksi orang tersebut, maka kesalahannya akan terus dipertahankan.

Karena alasan ini, suatu teori seperti Abhidhamma ini membutuhkan pengujian-pengujian terhadap hipotesis-hipotesisnya sejauh prediksi-prediksinya memang dapat diverifikasikan dari segi pandangan pengamat dari luar (Barat). Hal ini relatif sulit dilakukan terhadap perubahan-perubahan dari faktor-faktor jiwa seseorang yang bersifat terus menerus dari saat ke saat dan tidak kentara. Akan tetapi ada kemungkinan menguji gambaran-gambaran Abhidhamma tentang perubahan-perubahan yang terjadi akibat keterpusatan perhatian pada satu titik di satu pihak, atau akibat sikap penuh perhatian yang bersifat sistematik di pihak lain. Dalam hal ini, gambaran-gambaran Abhidhamma tentang jhana adalah keadaan-keadaan di luar kesadaran yang hanya terjadi selama praktik meditasi itu sendiri. Sementara sifat-sifat arahat mencerminkan pengaruh-pengaruh sifat, yakni perubahan-perubahan kepribadian yang mengiringi peralihan ke keadaan di luar kesadaran yang berlangsung lama, yang terus bertahan terlepas dari meditasi itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#2

Perkembangan dan Pengaruh Psikologi Timur

terhadap Psikologi Barat

 

Walaupun psikologi-psikologi Timur banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya, psikologi ini juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas. Tujuan dari psikologi-psikologi Timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu. Dalam hal ini, setiap tipe kepribadian perlu mengatasi hambatan-hambatan yang berbeda untuk membebaskan diri dari batas-batas ini.

Pengaruh penting Psikologi Timur terhadap sejarah perkembangan Psikologi secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Pemikiran, tradisi intelektual dan religius Daerah Timur yang terkadang lebih kompleks dan bervariasi daripada Dunia Barat membawa kemajuan yang baru bagi perkembangan intelektual, yang kemudian diwujudkan dengan penemuan-penemuan kembali tulisan-tulisan kuno oleh ilmuwan-ilmuwan Daerah Timur.

2. Ketertarikan terhadap filsuf-filsuf kuno maupun modern dari Asia dan sistem kepercayaannya, hingga sekarang semakin memperluas dan mempertanyakan asumsi-asumsi di balik studi tentang human process.

The Crossroads : Persia and The Middle East

Sarjana Islam dan Guru Yahudi yang telah memelihara dan menjaga bagian pokok tulisan-tulisan Yunani kuno dan memperluas interpretasinya dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan medis. Avicenna dipandang sebagai pendiri Scholastic Phylosophy, mendahului Albertus Magnus. Penaklukan oleh Islam menyebabkan pemikiran-pemikiran Timur dikembangkan dari versi aslinya menjadi “centers of intellectual achievement” di dunia Arab dan Dunia Barat Eropa. Filsafat religius bangsa Persia kuno diwakili oleh kitab seorang pendeta, Zarathustra/Zoroaster, yaitu Avesta yang berisi pengetahuan dan kebijaksanaan , yang juga merupakan dasar pengajaran Zarathustra. Avesta memuat sekumpulan doa, legenda, puisi dan hukum yang menggambarkan pertentangan antara dewa kebaikan dan iblis.

Individu terikat dalam pertarungan antara yang baik dan yang buruk, dn memiliki kebebasan untuk memilih di antara keduanya. Psikologi ini mengarahkan pada etika dan nilainya menekankan pada kejujuran dan ketaatan.

Lambat laun kepercayaan Zarathustran mengenai mitologi dewa matahari dan dewi kesuburan serta sifat unggul Ahura-Mazda kian kabur, meskipun ajaran filsafatnya masih terpakai dan menckaup banyak hal (far-reaching). Sebenarnya, pertentangan antara yang baik dan yang buruk yang dsampaikan di dalamnya sejalan dengan filsuf Yunani, Empedokles. Penekanan pada keesaan Tuhan sama dengan ajaran Judaisme, dan beberapa ajaran Zarathustran memberikan pengaruh pada pemikiran orang Yahudi. Bahkan, terdapat korelasi antara ajaran umat Nasrani dengan tradisi Zarathustran. Dalam menjembatani komunitas Hindu di India, Dunia Arab dan Yunani di Timur Tengah, Persia mempunyai posisi yang menguntungkan dan berpengaruh dalam menyatukan ketiganya.

India (The Vedas dan Upanishads)

Sebagai tempat kelahiran Buddha, tempat historis umat Hindu, target invasi Muslim, objek eksploitasi oleh kolonial Inggris,India menjadi sebuah storehouse pengetahuan-pengetahuan yang mendalam dan bervariasi.

Sebagian besar pengetahuan kuno India berasal dari kitab Veda, yang merupakan sekumpulan pelajaran, hymne, puisi, dan prosa yang dikompilasikan dari pengajian lisan. Walaupun terkesan ambigu dalam makna dan agak membingungkan dalam pengorganisasiannya, empat kitab Veda masih bertahan, yakni :

1. Rig-Veda : berisi hymne-hymne pemujaan

2. Sama-Veda : berisi pengetahuan tentang melodi

3. Yajur-Veda : berisi ritual pengorbanan

4. Atharva-Veda : berisi hal-hal magis (Magics)

Tiap kitab Veda terbagi dalam empat sektor, yakni : Mantras (hymne), Brahmanas (doa-doa ritual), Aranyaka (teks khusus untuk pertapa) dan Upanishads (kajian untuk para filsuf). Rig-Veda mungkin adalah yang paling populer sebagai literatur karena memuat banyak hymne dan puisi pemujaan pada berbagai objek ibadah, matahari, bulan, angin, fajar dan api. Sedangkan Upanishads lebih menekankan pada kebijaksanaan ajaran Hindu dalam kaitannya manusia dengan dunianya. Ketidakpercayaan pada kemampuan intelektual dan pengetahuan indrawi menjadi topik yang dominan, sebagai pencarian atas pengendalian diri, kesatuan, dan pengetahuan universal. Proses pencapaian tujuan ini melibatkan penumpahan segala ilmu, partisipasi, bahkan kesadaran partikular yang hanya berlangsung sebentar saja.

Dugaan untuk mewujudkan tujuan tersebut disebut Atman yang menggambarkan jiwa dari segala jiwa. Atman juga sebagai karakter yang tak berbentuk, sangat tersembunyi, sebuah definisi teraplikasi pada intisari individual, sehingga dikatakan kita bukanlah mind, body atau keduanya tetapi kita impersonal, netral dan menyerap realitas.

Upanishads adalah metode spriritual yang menyelamatkan kita dari terlepasnya ikatan antara particular dan material. Perpindahan esensi manusia dipandang sebagai hukuman atas kehidupan iblis dan reinkarnasi merupakan jalan pelepasan ikatan tersebut. Dengan menghilangkan keinginan individual melalui kehidupan pertapa, kita dapat keluar dari individualisme dan terserap kembali ke dalam kesatuan menyeluruh dari “Yang Ada” (Being) .

Tujuan-tujuan yang diungkapkan dalam Upanishads mengarahkan pada psikologi yang sangat bertentangan dengan dasar filosofis ajaran Barat. Namun lambat laun Upanishads mengakui bahwa individu menegaskan dirinya sendiri sebagai proses adaptasi dan perkembangan yang sempurna.

India (Hindu Science and Phylosophy)

Ilmuwan-ilmuwan Hindu mengembangkan sistem kompleks dalam bidang matematika. Ilmuwan yang terbesar adalah Aryabhata (ca.500) yang menggunakan sistem desimal dalam argumennya mengenai revolusi bumi pada porosnya. Studi fisikanya didasari oleh teori filsafat yang menekankan pada dasar kehidupan tergantung pada atom yang berinteraksi dalam cara yang berbeda dalam menghasilkan objek dan kejadian lingkungan yang bervariasi. Ilmu kimianya mempelopori industri yang berkembang pesat, seperti pembuatan kaca, pencelupan kain dan penyamakan. Dunia medisnya menghasilkan proyek besar dalam anatomi dan fisiologi, antara lain mengenai sistem otot manusia. Kedokteran India pada awalnya memandang penyakit sebagai kesalahan sistem/terganggunya salah satu dari empat humors (udara, air, lendir dan darah), sehingga tumbuh-tumbuhan (herbs) digunakan sebagai obatnya.

Tujuan pengetahuan bukan untuk mengetahui dan memprediksi aktivitas manusia dalam lingkungan, tetapi lebih untuk membebaskan diri dari particular dan material. Filsafat yang mendasari psikologi di India terekspresikan dalam enam sistem, yaitu :

1. The Nyaya System (argumen/alasan), metode investigasi dan berpikir di India, tujuan utamanya mencapai Nirvana, menggunakan silogisme bahwa ilmu dapat membimbing individu untuk membebaskan diri.

2. The Vaisheshika System, menyatakan bahwa kenyataan merupakan komposisi dari atom dan kehampaan.

3. The Sankhya System, sistem tertua yang mengidentifikasikan 25 realitas yang menyokong dunia. Tubuh diskemakan secara terperinci sebagai substansi yang mengandung intelektualitas, kemampuan indrawi, mind, organ perasaan dan tindakan. Jiwa (spirit) digambarkan sebagai seorang manusia, prinsip fisik yang memberi substansi sebuah kehidupan, bersifat universal dan plural, bukan individual.

4. The Yoga System, membebaskan tubuh manusia dari hasrat/nafsu badaniah dan pengetahuan indrawi melalui kekuatan supernatural dengan jalan meditasi.

5. The Purva-Mumansa System, menggunakan mind untuk mensari kebenaran.

6. The Vendanta System, merupakan perluasan kitab Veda yang menyatakan prisnsip pertamanya bahwa Tuhan dan jiwa (soul) adalah suatu kesatuan, merngaplikasikan ajarannya pada pencarian insight, keterbukaan, disiplin diri dan keinginan untuk menemukan kesatuan dan kebahagiaan dalam Tuhan.

Implikasi penting filsafat Hindu dalam psikologi:

1. Individu memiliki karakteristik sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar.

2. Penegasan individualitas dipandang bukan hanya berarti bagi dirinya sendiri, tapi lebih kepada sebuah aktivitas yang diminimalkan dan dihindari.

3. Penekanan pada humanisme yang berdasar pada konsep dasar Hindu.

India ( Buddism)

Buddha berkeliling dari kota ke kota untuk menyebarkan doktrinnya yang dipasang sebagai benang/sutra untuk menyentakkan ingatan seseorang. Ajarannya bertumpu pada kesusahan dan kesengsaraan yang melingkupi pengalaman manusia, pada intinya pencapaian Nirvana dengan hidup yang abadi, sejenis dengan pembebasan pada ajaran Hindu.

Filsafat religinya menitikberatkan bahwa pengetahuan indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan kita, sebagai individu kita tidak bebas memilih nasib karena sudah ditentukan oleh determinasi kebiasaan, hereditas/keturunan dan kejadian-kejadin di lingkungan. Psikologi Buddha lebih mengarah kepada Behaviorisme dan Materialistik, menerima pula reinkarnasi.

China (Early Philosophies)

Sumber tercatat yang paling awal adalah buku metafisika, Book of Change (the I-Ching) yang berisi trigram mistis yang mengidentifikasaikan hukum dan elemen alam. Tiap trigram bercabang menjadi tiga jalur yang masing-masing berlanjut dan mewakili prinsip laki-laki Yang yang menindikasikan petunjuk, aktivitas dan produktivitas positif dan merupakan simbol suci dari cahaya, panas dan hidup. Jalur lainnya patah dan menggambarkan prinsip wanita Yin yang mengindikasikan petunjuk negatif dan pasif , juga sebagai simbol suci kegelapan, dingin dan kematian.

Lao Tze yang menulis buku Tao Te Ching ( Book of the Ways and of the Virtue) yang mendasari ajaran Taoisme yang menawarkan jalan menuju kehidupan yang bijaksana, menolak bentuk pengetahuan agar kehidupan lebih simpel dan dekat dengan alam. Taoisme tidak menawarkan alternatif, penjelasan realistis mengenai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

China (Confusius)

Pemikiran utama Confusius ditulis dalam sembilan seri buku. Lima buku pertama menerangkan tentang norma kesopanan, komentar tentang I-Ching, prinsip-prinsip moral, sejarah negara dan legenda ternama dari China. Keempat buku yang terakhir berisi ajaran-ajaran filosofisnya. Ajaran moral Confusius berdasar pada komitmen individu dalam penghormatan, kejujuran dan harmoni pribadi. Menurutnya, keluarga merupakan unit kritik sosial yang mendukung individu dan bertindak sebagai pembatas terhadap lingkungan sosial yang lebih kompleks. Konfusianisme bukan filsafat yang komprehensif, berisi ajaran-ajaran praktis yang mengarahkan pada tindakan moral dan politik, sehingga merupakan tipe filosofi aplikasi dengan beberapa tambahan metafisis.

Filsafat Konfusianisme mengarah pada konservatisme yang menyokong komunitas China, menekankan pada keluarga, ciri khasnya pada loyalitas pada hubungan, menyediakan basic framework di dalam institusi poltik, pendidikan, militer dan ekonomi.

China (Later Philosophies)

Mo Ti , seorang filsuf cinta yang universal, menolak ajaran Confusius, mengembangkan bukti-bukti logis untuk menunjukkan keberadaan roh dan hantu, ajarannya menjadi dasar Chinesse Pacifism. Yang Chu, mengembangkan teori dasar yang menolak eksistensi Tuhan dan kehidupan setelah mati, pandangan hidupnya cenderung hedonis, yang mencari kesenangan dalam hidup. Mencius,menawarkan pandangan yang lebih moderat, menyatakan kewajiban sosial dapat membuat kehidupan manusia menjadi baik, dalam praktiknya dia mengajarkan kepemimpinan dan kebajikan individu. Chuang-tzn, menganut ajaran Taoisme yang back to nature.

Dalam filosofi China, kemampuan intelektual tidak menempati peranan yang dominan. Isu-isu religius, moral dan politik yang dipadukan memberikan pengaruh pada perhatian ilmiah, termasuk psikologi. Takhayul, skeptisism, ritual nenek moyang, toleransi sosial, kebajikan dan panteisme menjadi topik dominan dalam literatur China dan pemikirannya.

Psikologi dibatasi dalam skala konformitas dan non-konformitas dengan etika moral yang dapat diterima oleh masyarakat isu-isu psikologi diintregasikan dengan tujuan-tujuan keabadian melalui kebajikan dan kejujuran.

Japan

Korea dan Jepang adalah penerima budaya Cina. Legenda Jepang mengajarkan bahwa pulau keramat diciptakan oleh dewa yang melahirkan kaisar pertama yang berhasil mematahkan garis silsilah. Masyarakat Jepang di zaman feodal dibagi berdasarkan kasta. Kaisar adalah figur pemimpin dan kekuatan sesungguhnya diletakkan pada shogun yang dimunculkan biasanya setelah kekuatan perjuangan meliputi peperangan sengit dan intrik politik. Setiap pemimpin didukung oleh ksatria yang disebut samurai yang berjumlah lebih dari satu juta orang di berbagai periode pada zaman feodal Jepang. Mereka mengikuti aturan kaku yang berdasar pada kesetiaan, keberanian dan kepekaan yang besar terhadap martabat dan kehormatan. Pekerjaan sebenarnya dilakukan oleh seniman, petani kecil, dan pedagang. Ada pula budak dalam jumlah besar, hampir lima persen dari populasi yang menjadi kriminal atau orang yang dijerumuskan ke perbudakan. Para pekerja dikenai pajak tinggi dan dipekerjakan sebagai buruh pada tuan lokal atau pada negara.

Agama tertua di Jepang, Shinto berdasar pada ibadat nenek moyang dan mempunyai kepercayaan yang sedikit lebih sederhana untuk tradisi dan beberapa ritual kebangsaan dan doa. Pada tahun 552 Buddisme diimpor dari Cina. Buddisme di Jepang menjadi sebuah penegasan bersifat positif dari kepercayaan pada dunia berbudi luhur. Versi Buddisme ini cocok sekali dengan jenis dari pengendalian sosial yang ada ditandai dengan struktur hierarki dari masyarakat Jepang. Confusianisme diperkenalkan di Jepang pada abad ke enam belas. Guru besar Confusian dan pembuat essay terkenal bernama Hayashi Rizan (1583-1657) dikenal sebagai sarjana dan memenangkan perubahan dari Buddisme dan perkenalan dini Kristen. Walau universitas pertama di Jepang didrikan di Kyoto pada abad ke delpan, komitmen sebenarnya untuk pendidikan yang lebih tinggi tidak muncul sampai abad ke tujuh belas dengan kedatangan Tokugawa Shogunate (1603-1867).

Di tahun 1630 di Yedo, Hayashi Razan memulai sebuah sekolah unutk administrasi negara dan filsafat Confusian, yang kemudian menjadi Universitas Tokyo. Kaibara Ekken (1630-1714) adalah filsuf Confusian terpopuler di akhir zaman feodal Jepang. Guru termasyhur yang menekankan kesatuan dari seseorang di dalam lingkungan. Ia menyokong kehidupan berbudi tinggi unutk menerima harmoni dengan alam. Jepang kemudian menjadi pusat belajar Confusian. Soho Takuanm (1573-1645) memperlihatkan individu sebagai sebuah refleksi mikrokosmik dari jagad raya; disiplin diri dapat memimpin dan mengontrol peristiwa dari luar. Baigan Ishida (1685-174) meyakinkan bahwa pikiran secara fisik berdasar dan sensitif pada masukan lingkungan. Ishida mengajarkan bahwa isi dari pikiran adalah tergantung pada linkungan, jadi kepribadian berubah seiring dengan perubahan masukan, Ho Kamada (1753-1821) meyakinkan bahwa terdapat 14 emosi dan mengusulkan sebuah kode secara psikologi yang berdasar pada kehidupan berbudi tinggi untuk mencapai kebahagiaan diri. Filsafat Jepang pada akhir zaman feodal kaya akan interpretasi secara psikologi. Ketika Jepang secara cepat beralih dari masyarakat feodal ke masyarakat industri di akhir abad ke-19, Jepang membangunsebuah sistem pendidikan bermutu tinggi berdasar pada komitmen yang tinggi untuk belajar. Kesetiaan , gabungan dan kekuatan keluarga, semua disusun ke dalam organisasi industri Jepang.

Modern Asian Psychology

Tren sementara di psikologi di negara Asia cukup mirip dengan tren modern di psikologi yang ada di negara barat. Psikologi sementara sebagai disiplin yang dapat diidentifikasi di Asia tidak dapat dipercayakan pada tradisi India, tetapi lebih baik direfleksikan pada tradisi barat

India

Pada tahun 1916 di Universitas Calcuta, N.N Sangupta menjadi profesor pertama di Departemen Psikologi dan kemudian ia pergi ke Lucknow di India utara, dimana ia memulai laboratorium Psikologi pada tahun 1929. Pada tahun 1925, Universitas Mynsore juga menawarkan kurikulum Psikologi. Masyarakatr Psikoanalitik India dibangun pada tahun 1922, diikuti tiga tahun kemudian oleh sebuah organisasi yaiut Asosiasi Psikologi India yang menerbitkan Indian Journal of Psychology. Beberapa tahun kemudian muncullah yoga sebagai aplikasi dari Psikologi itu sendiri. Yoga adalah sebuah filsafat dominan dari India kuno, dari Upanishad. Yoga adalah sebuah sistem dari disip[lin diri dalam refleksi yang digunakan unutk menbantu seseorang mengumpulkan ilmu pengetahuan. Seperti yang diajarkan filsuf pertama Patanjali (150 SM) pada Yoga-Sutras-nya, tujuan dari yoga adalah mencari kebebasan diri dari semua konteks mental. Psikolog telah memperlihatkan yoga dalam jangka waktu dari indikasinya unutk terapi tingkah laku, kontrol psikofisiologikal dan perkembangan kognitif.

China

Laboratorium penelitian psikologi pertama didirikan di Universitas Beijing (Peking) pada tahun 1917, dan Departemen Psikologi yang berdiri sendiri pertama didirikan di Universitas Nanking.Asosiasi Psikologi Cina dimulai pada tahun1921 dengan Zhang Yaoxiang sebagai presiden pertama. Jurnal Psikologi berisi ringkasan dari pekerjaan eksperimen Amerika terkini. Ketika Jepang diserang 5 provinsi di Cina utara bermula pada 1937, semua kegiatan penelitian dihentikan. Kontak dengan barat benar-benar berakhir, dan usaha awal untuk kebangkitan kembali psikologi dipengaruhi olehpenasihat Soviet yang cenderung mengusulkan model dari refleksologi. The Chinese Academy of Sciences didirikan kembali pada tahun 1950 dan tahun 1956 Institut of Psychologycal Research didirikan di bawah bagian akademi biologi, yang mungkin merefleksikan pengaruh dari penasihat soviet tersebut. Pada tahun 1955 The Chinese Psychological Asasociation didirikan kembali dengan Pan Shu sebagai presidennya. Kesadaran sebagai area belajar telah dihukum sebagai perantara kelas dan penelitian psikologi telah dicela sebagai metafisikal dan borjuis.

Japan

Jepang telah menjadi pemimpin dari penelitian Psikologi dan jurnal Jepang menyediakan sebuah penghargan dan bagian yang tak terhingga nilainya dari dasar Psikologi. Penemuan model barat dari pemeriksaan psikologi di Jepang biasanya memperhitungkan Yujiro Motiva (1858-1912) sebagai psikolog eksperimental Jepang pertama. Ia menjadi profesor di bidang psikologi yang pertama di Jepang di Universitas Tokyo dan mendirikan laboratorium di sana. Ia melanjutkan penelitian bahwa ia mengawalinya dengan Hall pada kepekaan dermal. Matataro Matsumoto (1865-1943) pergi ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt dan kembali ke Jepang pada tahun 1980. Ia mendirikan departemen psikologi dan laboratorium di Universitas Kyoto. Matsumoto merujuk pada sistem psikologinya sebagai psikosinematik atau pekerjaan mental yang berupa sebuah tipe dari kontrol psikofisiologikal dimana ia belajar secara eksperimental kondisi dari kekuatan mental melebihi gerakan tubuh. Kwanichi Tanaak(1882-1962) instrumental dalam memperkenalkan behaviorisme Watson di Jepang. Tanaka mempublikasikan tipe dari metode objektif yang diusulkan oleh Watson. Koichi Matsude (1883-1947) mengusulkan versi awal dari kognisi hewan denganh interpretasinya tentang tingkah laku hewan pada tingkat kesadaran. Ryo Kuroda (1890-1947) berargumentasi bahwa tingkah laku dan kesadaran adalah 2 hal dari pengalaman yang sama dan lebih bersifat komplemen daripada kontradikti. Psikologi Gestalt diperkenalkan oleh Kanae Sakuma (1888-1970) yang menerima pendidikan inisialnya di Jepang dan kemudian belajar di Berlin pada tahun 1925 dan 1926. Hiroshi Hayami memperkenalkan tradisi fenomenologikal dari Husserl yang menyediakan lebih banyak akses langsung kepada pengalaman. Shoma Morita (1874-1938) beargumen bahwa reaksi dan perhatian yang tak pantas terhadap tingkah laku neurotik sering membesar-besarkan masalah dan hasil pada masa-masa ganas. Morita menawarkan alternatif therapeutik yang dipinjam dari Zen Buddhism. Zen bersifat antirasionalistik, tapi itu mencari jejak ilmu pengetahuan dengan intuisi dan interpretasi daripada kepercayaan pada tulisan tradisional Budha. Tujuan dari teori Morita adalah mencari harmoni dengan alam semesta, tidak berperang atau menentang alam semesta. Morita menjelaskan ada 4 tingkat prosedur dimulai pada kecemasan pasien dan berakhir pada persiapan pasien untuk mengembalikan keberadaan tiap harinya. Model itu dikembangkan lebih lengkap pada psikologi Zen oleh Koji Sato (1905-1971) aslinya dipengaruhi oleh Psikologi Gestalt, lalu Sato beralih pada psikoanalisis dan Psikologi klinis. Teknik meditasi Zen menggunakan adaptasi fisikal di perawakan dan pernapasan untuk menerima ketenangan dan kejernihan melalui realisasi harmoni dan integrasi dari individu dan alam semesta.

#3

Mazhab dan Aliran dalam Psikologi (Psikoanalisa, Behaviorism, Humanistik, Gestalt, Psikologi Positif, Psikologi Transpersonal & Psikologi Lintas Budaya)

Psikologi sebagai sebuah ilmu akan selalu berkembang, seiring dengan berkembangnya mazhab-mashab dan teori-teori baru yang bermunculan. Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori-teori sebelumnya. Memang, patut diakui bahwa titik pandang (teori) dalam psikologi tidak ada yang sempurna, sehingga terbuka kesempatan bagi ilmuwan untuk memberikan kritik dan masukan ataupun penyempurnaan dari teori yang sudah ada.

Kali ini, kita akan membahas beberapa teori-teori psikologi. Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik (Holistik), Psikologi Gestalt, Psikologi Positif, Psikologi Transpersonal dan Psikologi lintas Budaya (Cross Culture Psychology)

1. Psikoanalisis

Salah satunya tokoh psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 – 1939). Nama asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak menjadi mahasiswa Freud tidak mau menggunakan nama itu karena kata Sigismund adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria (sekarang Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke Wina, Austria (Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).

Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.

Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.

Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses(preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:

a.    Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.

b.    Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.

c.    Ego, adalah pengawas realitas.

Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Id mengatakan pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan ego berkata:”Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan lakukan!”.

Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya).

Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap secondary process thinking. Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya). Walau begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel akibat dimarahi bos di kantor misalnya).

Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan proses kedua adalah IQ (intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ (spiritual quotient).

2. Behaviourisme

Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 – 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja. Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi.

Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.

Percobaan yang hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah sebatang besi dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini diulang terus menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis begitu hanya melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu dan topeng Sinterklas.

Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai kontrapelaziman (counterconditioning).

3. Psikologi Humanistis

Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Aliran ini biasa disebut mazhab ketiga setelah Psikoanalisa dan Behaviorisme.

Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.

Salah satu bagian dari humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:

a. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.

b. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.

c. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.

Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya.

Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:

a. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.

b. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.

c. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.

d. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.

e. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita.

4. Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau bentuk yang utuh. Suatu gestalt dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Semua penjelasan tentang bagian-bagian objek akan mengakibatkan hilangnya gestalt itu sendiri. Sebagai contoh, ketika melihat sebuah persegi panjang maka hal ini dapat dipahami dan dijelaskan sebagai persegi panjang berdasarkan keutuhannya atau keseluruhannya dan identitas ini tidak bisa dijelaskan sebagai empat garis yang saling tegak lurus dan berhubungan.

Sejalan dengan itu, gestalt menunjukkan premis dasar sistem psikologi yang mengonseptualisasi berbagai peristiwa psikologis sebagai fenomena yang terorganisasi, utuh dan logis. Pandangan ini menjelaskan integritas psikologis aktivitas manusia yang jelas. Menurut para gestaltis, pada waktu itu psikologi menjadi kehilangan identitas jika dianalisis menjadi komponen-komponen atau bagian-bagian yang telah ada sebelumnya.

Psikologi gestalt adalah gerakan jerman yang secara langsung menantang psikologi strukturalisme Wundt. Para gestaltis mewarisi tradisi psikologi aksi dari Brentano, Stumpf dan akademi Wurzburg di jerman, yang berupaya mengembangkan alternatif bagi model psikologi yang diajukan oleh model ilmu pengetahuan alam reduksionistik dan analitik dari Wundt.

Gerakan gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat jerman yakni aktivitas mental dari pada sistem Wundt. Psikologi gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori nativistik yang mengatakan bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu berinteraksi dengan lingkungannya melalui cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah menyelidiki organisasi aktivitas mental dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi manusia-lingkungan.

Hingga pada tahun 1930, gerakan gestalt telah berhasil menggantikan model wunditian dalam psikologi Jerman. Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak berlangsung lama kerena munculnya hitlerisme. Sehingga para pemimpin gerakan tersebut hijrah ke Amerika.

Psikologi gestalt diawali dan dikembangakan melalui tulisan-tulisan tiga tokoh penting, yaitu Max Wertheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Ketiganya dididik dalam atmosfer intelektual yang menggairahkan pada awal abad 20 di Jerman, dan ketiganya melarikan diri dari kejaran nazi dan bermigrasi ke Amerika.

Tetapi di Amerika psikologi gestalt tidak memperoleh dominasi seperti di Jerman. Hal ini dikarenakan psikologi Amerika telah berkembang melalui periode fungsionalisme dan pada tahun 1930-an didominasi oleh behaviorisme. Oleh karena itu, kerangka psikologi gestalt tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan di Amerika.

5. Psikologi Transpersonal

Kata transpersonal berasal dari kata trans yang berarti melampaui dan persona berarti topeng. Secara etimologis, transpersonal berarti melampaui gambaran manusia yang kelihatan. Dengan kata lain, transpersonal berarti melampaui macam-macam topeng yang digunakan manusia.

Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan.

Perintisan psikologi transpersonal diawali dengan penelitian-penelitian tentang psikologi kesehatan pada tahun 1960-an yang dilakukan oleh Abraham Maslow(Kaszaniak,2002). Perkembangan psikologi transpersonal lebih pesat lagi setelah terbitnyaJournal of Transpersonal Psychology pada tahun 1969 dimasa disiplin ilmu psikologi mulai mengarahkan perhatian pada dimensi spiritual manusia. Penelitian mengenai gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, exctasy, keadaran ruhaniah, pengalaman transpersonal, aktualisasi dan pengalaman transpersonal mulai dikembangkan. Aliran psikologi yang memfokuskan diri pada kajian-kajian transpersonal menamakan dirinya aliran psikologi transpersonal dan memproklamirkan diri sebagai aliran ke empat setelah psikoanalisis, behaviourisme dan humanistic. Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States of Consciosness). Sejak 1969, ketika Journal of Transpersonal Psychology terbit untuk pertamakalinya, psikology mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia. Penelitian yang dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, ekstasi, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal pengalaman spiritual dan kecerdasan spiritual (Zohar,2000).

Aliran psikologi Transpersonal ini dikembangkan oleh tokoh psikologi humanistic antara lain : Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistic. Sebuah definisi kekemukakan oleh Shapiro yang merupakan gabungan dari pendapat tentang psikologi transpersonal : psikologi transpersonal mengkaji tentang poitensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi.

Menurut Maslow pengalaman keagamaan meliputi peak experience, plateu, dan farthes reaches of human nature. Oleh karena itu psikologi belum sempurna sebelum memfokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Maslow menulis (dalam Zohar, 2000). “I should say also that I consider Humanistic, Third Force psychology, to be trantitional, a preparation for still higher Fourth Psychology, a transpersonal, transhuman centered in the cosmos rather than in human needs and interest, going beyond humanness, identity, self actualization, and the like”.

Psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual atau transcendental diri manusia. Hal inilah yang membedakan konsep manusia antara psikologi humanistic dengan psikologi transpersonal. McWaters (dalam Nusjirwan, 2001) membuat sebuah diagram yang berbentuk lingkaran dimana setiap lingkaran mewakili satu tingkat berfungsinya menusia dan tingkat kesadaran diri manusia.

Tiap tingkat dari bagian diatas menunjukan tingkat fungsi dan tingkat kesadaran manusia. Lingkaran 1,2 dan 3 yang berturut-turut mewakili aspek fisikal, aspek emosional dan aspek intelektual dari kekuatan batin individu. Lingkaran 4 menggambarkan pengintegrasian dari lingkaran 1, 2 dan 3 yang memungkinkan individu berfungsi secara harminis pada tingkat pribadi. Keempat lingkaran ini termasuk dalam kawasan personal manusia.
Tingkatan berikutnya termasuk dalam kategori wilayah transpersonal manusia. Lingkaran 5 mewakili aspek intuisi. Pada aspek ini mulai samara-samar menyadari bahwa ia bisa mempersepsi tanpa perantara panca indra (extra sensory perception). Lingkaran 6 mewakili aspek energi psikis (kekuatan bathiniah) di mana individu secara jelas menghayati dirinya sebagai telah mentransedir/melewati kesadaran sensoris dan pada saat yang sama menyadari pengintegrasian dirinya dengan medan-medan energi yang lebih besar. Fenomena-fenomena para psikologi dapat dialami pada tingkat kesadaran ini. Lingkaran 7 mewakili bentuk penghayatan paling tinggi-penyatuan mistis atau pencerahan, dimana diri seseorang mentransendir dualintas dan menyatu dengan segala yang ada. Melewati ke tujuh tingkat yang disebutkan itu, dikatakan lagi tingkat pengembangan potensial dimana semua tingkat dihayati secara simultan.

Konsep dari McWater ini dapat menjelaskan bagaimana seseorang mencapai kualitas diri melalui metode tafakur. Ketika seseorang berada pada fase pertama dalam bertafakur berarti dia berada pada dunia fisik yaitu pengetahuan yang didapat dari fungsi indera. Sebuah kejadian akan dipresepsi secara empiris yang langsung melalui pendengaran, penglihatan atau alat indera lainnya, atau secara tidak langsung seperti pada fenomena imajinasi, pengetahuan rasional yang abstrak, yang sebagaian pengetahuan ini tidak ada hubungannya dengan emosi. Jika seseorang memperdalam cara melihat dan mengamati sisi-sisi keindahan, kekuatan, dan keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu, berarti ia telah berpindah dari pengetahuan yang indrawi menuju rasa kekaguman ( tadlawuk) dimana pada tahap ini adalah tahap bergejolaknya perasaan, disini kita melihat bahwa tahap ini sesuai dengan tahap kedua dari McWater yaitu emosional. Pada tahap selanjutnya, dengan bertafakur aktiitas kognitif seseorang muali delibtkan, disinilah tafakur sangat berperan dalam proses pengintegrasian ketiga komponen tadi yaitu fisik, dmosi dan intelektual.

Kemudian jika hasil pengintegrasian seseorang ini ditransendensikan kepada Allah maka kualitas seseorang tadi akan meningkat dari personal menuju transpersonal. Badri (1989) mencontohkan seseorang yang sudah pada tahap transpersonal ini “perasaan kagum manusia terhadap keindahan dan keagungan penciptaan serta perasaan kecil dan hina di tengah malam, yang ia saksikan merupakan fitrah yang sudah diberikan Allah kepada manusia untuk dapat melihat semua yang ada di langit dan di bumi sehingga ia dapat menemukan sang pencipta, merasakan khusuk terhada-Nya, dan dapat menyembah-Nya. Baik karena takut atau karena cinta”. Dari ungkapan tersebut dapat dita lihat bahwa seseorang yang mengakui bahwa keindahan itu adalah ciptaan Allah maka berarti dia sudah memasuki dunia transpersonal.

6. Psikologi Positif

Psikologi yang berkembang dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi negatif, karena berkutat pada sisi-negatif manusia. Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan terapi atas masalah-masalah kejiwaan. Padahal, manusia tidak hanya ingin terbebas dari problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi jenis lain yang menjawab harapan ini?

Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.

Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer ini, Seligman memperkenalkan prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor pendukungnya. Dengan metode-metode praktis yang dirumuskannya, Anda dapat memanfatkan temuan-temuan terbaru dari sains kebahagiaan untuk mengukur dan mengembangkan kebahagiaan dalam hidup Anda.

Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas pada tahun 2000 oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi ”Kami percaya bahwa psikologi positif akan muncul fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk membangun berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat. Psikologi positif mencari” untuk mencari dan membina jenius dan bakat “, dan” untuk membuat kehidupan normal lebih memuaskan “, tidak hanya untuk mengobati penyakit mental. Pendekatan ini telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada tahun 2006 studi di Universitas Harvard yang berjudul “Psikologi Positif” menjadi kursus semester yang paling populer semester.

Beberapa Psikolog Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm mengembangnak teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori yang dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak dikritik. Teori ini lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya keagamaan dan psikologi humanistic.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain. Yang selalu berhubungan dengan sisi negatif seseorang.

Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi positif, yaitu lebih menekankan apa yang benar/baik pada seseorang, dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi biasanya selalu menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi, kegelisahan dan lain lain.

Itulah sebabnya, ada aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif. Menurut Seligman, “Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikanPengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.

Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi. Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat masalah yang ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia. Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi negatif.

Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Sebelumnya, psikologi lebih banyak membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif, seperti marah, benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus, disebutkan bahwa emosi positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal ini tidak jelas kenapa demikian. Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman yang subyektif dibanding melakukan emosi positif. Contohnya, pada saat kita marah, maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior, dan sebagainya. Ada suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, sehingga dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.

Psikologi positif tidak bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan atau gangguan (jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.

Jadi intinya saat ini kita sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita merubah diri kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif.

7. Psikologi Lintas Budaya (Cross Culture Psychology)

Kata budaya sangat umum dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Paling sering budaya dikaitkan dengan pengertian ras, bangsa atau etnis. Kata budaya juga kadang dikaitkan dengan seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebagai sebuah entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita berperilaku tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah konsep abstrak, lebih dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia terus berubah dan tumbuh, akibat dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain, perubahan kondisi lingkungan, dan sosiodemografis. Budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu-individu yang tersatukan dalam sebuah kelompok. Budaya menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-individu yang menjadi anggota suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari. Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.

Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya? Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku sosial, Ekologi – budaya – sosialisasi – kepribadian – perilaku. Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan adaptasi kultural merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.

Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis. Artinya sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya. Pada akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau malah kurang relevan.

Sebuah definisi mengenai budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna pemahaman yang sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya. Culture as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of people, but different for each individual, communicated from one generation to the next (Matsumoto, 1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi ini memenuhi semua perdebatan sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun sesuatu (things) yang hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok. Selain itu, definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial sekaligus konstruk individu.

Psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya secara sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang kultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara para partisipan tersebut.

Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) (Matsumoto, 2004).

Menurut Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Pengertian ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di dunia, dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi. Terdapat beberapa definisi lain (menekankan beberapa kompleksitas), antara lain:

a. Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.

b. Menurut Brislin, Lonner, dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.

c. Triandis (1980) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematik mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan.

Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan ciri tertentu, seperti misalnya pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah cara mengenali hubungan sebab-akibat antara budaya dan perilaku. Kedua, berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari pengetahuan psikologi yang dianut. Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis pengalaman budaya. Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya dengan perilaku individual. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang memperhatikan faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.

Sumber:

Jalaluddin Rakhmat dalam Danah Zohar, SQ – Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Hidup, Mizan, Jakarta, 2000.

Noesjirwan, joesoef. 2000. Konsep Manusia Menurut Psikologi Transpersonal (dalam Metodologi Psikologi Islami). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Purwanto, Setyo. 2004. Tafakur Sebagai Sarana Transendensi. (materi kuliah PI) tidak diterbitkan

Misiak, Henryk and Virginia Staudt Sexton, Ph.D. 1988 .Psikologi Fenomenologi Eksistensial dan Humanistik : Suatu Survai Historis. Bandung : PT Eresco

Purwanto, Setyo.2004. Hank Out PI : Metode-metode Perumusan Psikologi islami.(Materi Kuliah) tidak diterbitkan

« »